
JAKARTA - Tawuran seakan sudah menjadi budaya bagi siswa SMA 6. Atas kegagalan dalam melaksanakan tugas, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Kepala Sekolah SMA 6 dinilai layak untuk dilengserkan dari kursinya.
"Ini membuktikan Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Kepala Sekolah SMA 6 Jakarta telah gagal melakukan tugasnya sebagai pihak yang mengelola mutu pendidikan dan mendidik para siswa di Jakarta, kami meminta mereka mundur," kata koordinator Gerakan Pemuda Beretika, Saefudin Abbas dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu (21/9/2011).
Seperti diketahui, pengeroyokan yang dilakukan siswa SMA 6 terhadap wartawan terjadi pada Senin 19 September 2011, siang. Puluhan siswa menyerang wartawan yang sedang melakukan aksi damai di depan SMA 6 Jalan Mahakam, Jakarta Selatan.
Akibatnya, sedikitnya lima orang wartawan mengalami luka di sekujur tubuh. Yudhistiro wartawan surat kabar Seputar Indonesia mengalami luka cukup parah. Dia terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina untuk mendapat perawatan.
Aksi damai merupakan buntut dari pengeroyokan yang dilakukan siswa SMA 6 terhadap juru gambar Trans 7 pada Jumat pekan lalu. Aksi damai menuntut pihak sekolah bertanggung jawab atas ulah tak terpuji siswanya.
Menanggapi pengeroyokan yang menimpa wartawan, Saefuddin menilai ini terjadi karena pelajar tidak mengerti ketentuan pidana yang diatur dalam Undang-undang Pers.Aksi ini, tambahnya, sekaligus mempertegas situasi bangsa yang tengah sakit.
"Perilaku anarkis pelajar SMAN 6 Jakarta yang memukuli dan merusak peralatan kerja jurnalis menjadi cermin dari buruknya sistem pengajaran dan cara mendidik siswa di lembaga pendidikan di DKI Jakarta," tegasnya.
Pihaknya juga mendukung agar pihak kepolisian menyelidiki kasus ini hingga tuntas.
"Kami mendukung penuh aparat kepolisian dalam hal ini Polres Jaksel untuk mengusut tuntas penanganan kasus pengeroyokan terhadap wartawan yang dilakukan para pelajar SMAN 6," pungkasnya. (tri)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar