
BOGOR - Standardisasi kesehatan di daerah penempatan yang berbeda dengan di Indonesia membuat banyak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) gagal berangkat.
Situasi ini sangat disayangkan oleh Kasubdit Fasilitas Kesehatan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Elia Rosalina Afif. "Masalahnya banyak standarisasi kesehatan kita yang beda," katanya di Puncak, Bogor.
Dia mencontohkan seperti di Malaysia. Menurutnya, hasil rontgen dada di Malaysia berbeda dengan di Indonesia. "Kalau rontgen di Malaysia, kalau di dada itu berwarna putih, berarti itu TBC dan tidak boleh bekerja di sana," katanya.
Atau di Taiwan, di sana aturan kesehatannya cukup ketat. "Soal pemeriksaan di dalam tubuh, di kita memang cacing itu ketahuan dan bisa di basmi, namun untuk telur-telurnya kita sulit untuk mendeteksi. Ada alatnya tapi jarang, belum semua lab ada alatnya. Untuk di Taiwan kalau ketahuan ada cacingnya tidak boleh ke sana," katanya.
Ditambahkannya juga, sebaiknya para Pelaksanaan Penempatan TKI Swasta (P2TKIS) menggunakan job related. Maksudnya, penempatan TKI sesuai dengan hasil kesehatannya.
"Misalnya di Pabrik semen, kan dia (Calon TKI) enggak bisa di sana, ya dipindah saja. Misalnya dia (calon TKI) alergi bahan kimia, berarti enggak bisa di pabrik ya ditempatkan di tempat yang lain. Jadi harus job related," katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar